8/15/2019

Surat Untuk Anak Ku

Nak, bukan ayah tak sayang sama mu, tapi maaf kan ayah karena tak mampu memberikan kasih sayang ini, sepenuhnya pada mu. Suatu hari nanti, kau akan tau, seperti apa hati ayah untuk mu.

Hari ini ayah antarkan kebutuhan mu nak, maaf kebutuhan mu tak lengkap, karena ayah tak pernah menerima kabar tentang dirimu dari orang-orang yang saat ini ada di sekitar mu.

Nak, suatu hari kita akan bersama sama lagi, suatu hari, ayah akan menjemput mu dan akan selamanya bersama mu.

Nak, saat ini ayah belum bisa menemui mu, bukan karna ayah tak rindu, bukan karena ayah tak sayang pada mu, tapi karena sebuah hal, yang ketika kau dewasa nanti akan mengerti tentang keadaan ini.

Nak, satu pesan ayah untuk mu, jangan lah pernah mengeluh tentang kehidupan ini, jangan pernah menilai kasih sayang dengan uang, selalulah menjadi makhluk Allah yang selalu bersyukur.

Nak, jadilah anak yang pintar, supaya kau tau nanti membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Nak, hidup ini bukan untuk kaya, hidup ini untuk bahagia dan bagaimana membuat agar dimana-mana hati mu senang dan bermanfaat untuk orang lain.

Nak, yang sabar yah disana, hari ini esok dan lusa, ayah tak bisa memeluk mu. Tapi ingatlah janji ayah nak, suatu hari ayah akan menjemput mu untuk selamanya, tentu saja dengan cara yang baik dan benar.

Nak, jaga kesehatan mu, sabar, dan tetap semangat, karena Allah sayang pada mu.

Satu lagi pesan ayah nak, jangan jadi parbada yah nak. Kalau kita salah, kita minta maaf, terkadang meskipun kita benar ada kalanya kita perlu mengalah, itu bukan berarti kita kalah, tapi kita hanya menunda kemenangan kita, sambil belajar bersabar, dan berjuang untuk membuktikan bahwa yang benar itu tetap benar.

#jumat 16 Agustus 2019
Maaf yah nak, ayah males berantem disana..

8/11/2019

Bukan Penghianat

Biarlah, dalam kelam gelap bawah sadar.
Hamba meringkuk, terkapar mencoba bersujud.
Mengingat siapa aku dimatamu, meski hanya kau yang tahu.
Biarlah, aku hanya punya doa untuk mu.

Biarlah, si penghianat itu menikmatinya, seolah ia bahagia, dengan keputusannya.
Bahkan jika ia benar-benar bahagia,
Aku akan mengatakan, biarkanlah ia dengan kebahagiaannya.

Biarlah, karena aku tidak akan membuktikan apapun kepada nya,
Ya, kepada nya yang ku anggap sang penghianat.
Tiada faedah membuktikannya, karena dia manusia.
Biarlah, waktu yang berjalan akan memberi jawaban,
Karena ajal yang paling dekat dengan kehidupan.

Biarlah, dan biarkanlah.
Allah akan menjaga yang tepat untuk dijaga.

#happy8monthgirl

7/22/2019

Setapak Jalan Berilalang

Ilalang masih saja menari dengan lembutnya,
Hingga coklatnya tanah tak lagi tampak,
dibalut kehijauan ilalang yang semakin meninggi.
Semakin tua semakin menjadi...

Ya, akulah sang ilalang, hijau tak tau diri.
Meski malam menjelang, mata ini tak kan bisa terpejam, hati selalu penasaran tak terpuaskan.
Untuk apa aku memuaskan, meski harga mencekik leher dan batin ini.

Ya, akulah sang ilalang, semakin tua semakin menjadi.
Berusaha menarik diri, namun pantulan jiwa selalu menanyakan, kapan kembali???

Ya, akulah sang ilalang, yang ingin membumi.
Memberi kebahagiaan, melunakkan kesendirian, menghiasi bumi dengan warna.
Meskipun hanya berwarna hijau kecoklatan.

#22/07/2019
My secreet room...

7/20/2019

Darah Juang

Menetes mengucur memerah
Melukis wajah yang penuh peluh derita
Ulah manusia yang murka
Pada kesombongan iblis yang menjelma

Saat dosa menjelma menjadi murka
Karna kemunafikan dijadikan pembenaran,
Nurani terabaikan dan terisak,
Membunuh keyakinan dan membalutnya dengan dusta.

Langkah yang tertatih, perlahan menjadi bisu dalam nyanyian.
Menunggu cuplikan alam, membalaskan dendam dalam diam.
Aku memohon ampunan dan menanti jalan.
Dari engkau sang pencipta Alam.

#21/07/2019 00.35
Zaini Elhudaya

7/11/2019

Tersesat

Bintang-bintang menemani renungan malam ini
Tak terasa, pedang itu membunuh perlahan,
Menelan usia, kala amarah bergejolak tak tentu arah
Hawa nafsu mengiringi jalan menuju surga, tak mungkin.

Pola yang monotonpun mampu menyesatkan
Mengabaikan kebaikan yang sungsang, menelan emosi berpacu dengan sang waktu yang tajam
Hingga ajal menjelang, akankah kesesatan ini tetap ada
Bergemuruh sepanjang jalan berselimut awan tebal dan memaksa cahaya semakin meredup dalam gelap.

12.07.19
Ruang dimensi

7/08/2019

Untuk mu

Wangi itu mengigatkan ku pada mu,
Ya, dirimu yang mudah senyum dengan kepala botak yang lucu.
Berguling, menendang, dan tertawa dengan suara kecil belesung pipi,

Tangisan itu mengingatkan ku pada mu,
Ekspresi mu marah, saat kebutuhan mu ku tunda, dan aku tertawa.
Bermain emosi dengan mu membuat ku bahagia.
Belajar bersama mu membuat ku bahagia

Kesendirian ini mengingatkan ku pada mu,
Di titik kesendirian ini ku berharap bunga ku disini,
Berdiri di pinggiran dek yang sepi, kemudian berlari dan terjatuh,
Lalu tersenyum bersama angin laut.

Aku merindukan mu,
Aku sangat merindukan mu,
Aku hanya bermodalkan rindu,
Aku tak berharap rindu ini membahagiakan mu,
Biarlah rindu ini jadi pemicu.

KM Kelud 08 Juli 2018
(Bunga yang dirindukan)

Puisi Yang Hilang

Warnanya hijau muda,
Terabaikan ditelan waktu
Berhari, berminggu, berbulan,
Bahkan bertahun kemudian menghilang,
Hanya jejak dalam ingatan

Rupanya warna hijau muda
Penuh warna dan kisah
Sejarah yang berlukiskan tinta emas
Berbalut imajinasi kelam dalam sepi dan keramaian.

Bunga itu warna hijau muda
Dipenuhi rangkaian kata, bahkan angka-angka
Idealisme bahkan kemunafikan terlukis dikelopaknya,
Bahkan, cinta dan segala kepahitan terukir di tangkainya.

Imajinasi itu berwarna hijau muda,
Tumpukan kata bertindihan membangun segala keindahan dan keterpurukan,
Hingar bingar dan gejolak zaman memaksa dan mendesak,
Namun warnanya tetap hijau muda.

KM kelud 05.03 08 Juli 2019