1/11/2017

Gubernur Sialan

Langkahnya yang lesuh bercampur debu, keringat membasahi tubuh diterpa panasnya mentari siang itu. Walau terasa berat, Tulang (begitu biasa semua orang memanggilnya), diusia senja berusaha menyambung hidup, membiayai seorang istri dan seorang anaknya yang masih duduk dibangku SD.

Walau lelah, tapi Tulang tetap semangat mencari botot hari ini. Botot yang dibawanya lumayan, dengan senang dia melangkah pulang hari ini.

Dengan senyum dia menyapa istri yang telah menunggu dirumah, "kayaknya makan malam kita agak enak ini dek," "baguslah itu bang, biar sehat anak kita. dan nggak kekurangan gizi dia."

Tulang pun bergegas menjual hasil botot yang didapat hari ini, "lumayan bah... nyampe juga rupanya 50.000. Bisalah ini untuk makan sampai besok." (bisiknyadalam hati).
 
Perlahan Tulang melangkah mencari rumah makan, dibelinya dua bungkus nasi dan dua potong ayam bakar serta sayur daun ubi tumbuk untuk makan bersama keluarga malam ini. " Bang, yang banyak buat nasinya ya bang! kongsi tiga kami ini dirumah." " Beres Tulang."(jawab penjual nasi dengan ramah). 

Tulang pun bergegas pulang membawa nasi bungkus yang dibelinya. Setibanya dirumah, tulang melihat istri dan anaknya  yang duduk dilantai beralas tikar menanti kedatangan makanan yang dibawa tulang. Mereka berdoa bersama sebelum menyantap makanan hasil kerja yang didapat seharian. " Bang, udah tiga bulan aku gak makan enak bang," "samalah dek, aku juga terakhir waktu kita pergi kepestanya pak ketua itu."
    ***
Dengan lahap mereka habiskan makan malam hari ini, pak ketua yang baru dibicarakan pun datang, "Cemmana Tulang, sehatkan?" "Sehat bah Ketua." "Begini Tulang, kedatangan ku kemari membicarakan pilkada ini, Tulangkan kader partai Kambing kita, saya ketua ranting, jadi saya mau mengundang tulang untuk rapat pemenangan calon Gubernur partai kita. 
"kapan, dan dimana kita kumpul ketua?" 
"dirumah ku aja besok malam, cocok Tulang rasa?" 
"iyalah, kalau untuk ketua cocok lah... tapi ketua, ada uang masuknya itu kan?" 
"tenanglah Tulang, gampanlah itu, seperti biasa." 
"siap Ketua..." (jawab tulang dengan tegas berbalut senyum).

Setelah berpamitan si Ketua menuju rumah kader-kader yang lain untuk diundang rapat pemenangan calon Gubernur dirumahnya.

Hari ini berlalu seperti biasa, Tulang mencari botot, istrinya mengantar anaknya sekolah. Hari ini botot yang didapat Tulang tidak sebanyak semalam. tetapi dia bersukur karena untung masih ada.

Senjapun menyambut malam, Tulang bersiap menghadiri rapat pemenangan Cagub dari partainya, Tulang berjalan bersama tetangganya yang juga juga kader partai kambing.

Rapatpun dimulai, dihadiri oleh seluruh kader partai, baik yang tua maupun yang muda. Saran dan ide-idepun bermunculan, keputusan demi keputusanpun diputuskan, dan akhirnya mereka yakin bahwa Cagub yang diusung mereka menang. Karena Cagub berjanji akan menaikkan derajat rakyat miskin, dan membenahi seluruh fasilitas umum. Kebetulan lingkungan mereka mayoritas kelas ekonomi menengah kebawah. Setelah hasil akhir rapat diputuskan, rapatpun dibubarkan. Tulang beserta kader-kader tua partai yang lain berpulangan setelah disalam tempeli oleh letua ranting. Dan kader-kader muda masih asik minum tuak yang disediakan ketua ranting.
    ***

Hari pemilihan gubernurpun tiba, Tulang beserta kader-kader yang lain sibuk untuk menggiring massa termasuk keluarga dan kerabat-kerabat yang lain untuk memilih Cagub yang diusung partai kambing. Hasilnya cagub dari partai Kambing menang di daerah pemilihan tempat Tulang tinggal. Tak hanya itu, Cagub dari partai kambing menang telak diseluruh Provinsi, dan menjadi Gubernur untuk periode lima tahun kedepan.
    ***

Setahun berlalu setelah Gubernur yang baru dilantik, masyarakat termasuk Tulang belum merasakan perubahan-perubahan yang dijanjikan gubernur sebelum terpilih. bahkan kehidupan ekonomi, pendidikan dan kesehatan semakin membuat hidup tambah runyam

Hari-hari Tulang berlalu seperti biasa, Tulang mencari botot untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dengan membawa sedikit hasil botot hari ini, Tulang berjalan pelan pulang kerumah.

Setibanya dirumah dia terkejut melihat istrinya menggendong anaknya didepan rumah mereka yang sudah hangus terbakar. "dek, apa yang terjadi dengan rumah kita?"(tanya Tulang bingung melihat rumahnya yang sudah hangus terbakar). "Gak tau aku bang, tiba-tiba ada api dari atas asbes rumah kita," kenapa gak segera kau padamkan apinya dek?" "udah kucoba bang, tetapi kita kekurangan air, sumur yang dibelakang sudah kering, air pet tetangga juga mati bang, mobil pemadm kebakaran juga gak datang bang, padahal sudah ditelepon dan diberi tahu alamat yang jelas" (sambilmenangis istrinya menjelaskan kepada Tulang). "Tuhan, apa yang terjadi dengan rumah ku? mengapa harus aku yang kau beri cobaan yang berat in???" (teriak Tulang bertanya kepada yang Kuasa).

Tulang bergegas membuat laporan ke Dinas Pemadam Kebakaran, sehubungan tidak datangnya mobil pemadam saat rumahnya kebakaran. "pak kenapa mobil pemadam kebakaran tidak datang waktu rumah ku kebakaran?" (tanya Tulang kepada petugas yang sedang berjaga). "maaf Pak, Dinas pemadam kebakaran kekurangan armada mobil pemadam. Kami cuma punya tiga mobil pemadam, itu juga sedang menangani kebakaran ditempat lain." "kenapa bisa kekurangan mobil pemadam, yang nggak-nggak aja alasan kalian, padahal di APBD ada anggaran yang sangat besar untuk membeli mobil pemadam kebakaran, kenapa masih kurang?" "itulah pak, uang untuk mobil pemadam kebakaran dikorupsi sama Gubernur kita, semalam Gubernur dipanggil KPK untuk dimintai keterangan." "Gubernur yang baru terpilih itu?" "iya pak"

Tanpa bisa berkata apa-apa, tulang berjalan pulang kerumahnya yang sudah hangus terbakar. diperjalanan dia berteriak, "dasar Gubernur sialan, capek aku mengusahakan pemenanganmu supaya jadi Gubernur kau, kau korupsi pula uang untuk membeli mobil pemadam kebakaran, Gubernur sialan, Gubernur kurang ajar...."

by : Admin

No comments: