Langkahnya yang lesuh bercampur debu, keringat membasahi tubuh diterpa
panasnya mentari
siang itu. Walau
terasa berat, Tulang (begitu biasa semua orang memanggilnya), diusia
senja berusaha menyambung hidup, membiayai seorang istri dan seorang
anaknya yang masih duduk dibangku SD.
Walau lelah, tapi
Tulang tetap semangat mencari botot hari ini. Botot yang dibawanya
lumayan, dengan senang dia melangkah pulang hari ini.
Dengan
senyum dia menyapa istri yang telah menunggu dirumah, "kayaknya makan
malam kita agak enak ini dek," "baguslah itu bang, biar sehat anak kita.
dan nggak kekurangan gizi dia."
Tulang pun bergegas menjual
hasil botot yang didapat hari ini, "lumayan bah... nyampe juga rupanya
50.000. Bisalah ini untuk makan sampai besok." (bisiknyadalam hati).
Perlahan Tulang melangkah mencari rumah makan, dibelinya dua bungkus
nasi dan dua potong ayam bakar serta sayur daun ubi tumbuk untuk makan
bersama keluarga malam ini. " Bang, yang
banyak buat nasinya ya bang! kongsi tiga kami ini dirumah." " Beres
Tulang."(jawab penjual nasi dengan ramah).
Tulang pun bergegas pulang
membawa nasi bungkus yang dibelinya. Setibanya dirumah, tulang melihat
istri dan anaknya yang duduk dilantai beralas tikar menanti kedatangan
makanan yang dibawa tulang. Mereka berdoa bersama sebelum menyantap
makanan hasil kerja yang didapat seharian. " Bang, udah tiga bulan aku
gak makan enak bang," "samalah dek, aku juga terakhir waktu kita pergi
kepestanya pak ketua itu."
***
***
Dengan lahap mereka
habiskan makan malam hari ini, pak ketua yang baru dibicarakan pun
datang, "Cemmana Tulang, sehatkan?" "Sehat bah Ketua." "Begini Tulang,
kedatangan ku kemari membicarakan pilkada ini, Tulangkan kader partai
Kambing kita, saya ketua ranting, jadi saya mau mengundang tulang untuk
rapat pemenangan calon Gubernur partai kita.
"kapan, dan dimana kita
kumpul
ketua?"
"dirumah ku aja besok malam, cocok Tulang rasa?"
"iyalah, kalau
untuk ketua cocok lah... tapi ketua, ada uang masuknya itu kan?"
"tenanglah Tulang, gampanlah itu, seperti biasa."
"siap Ketua..." (jawab
tulang dengan tegas berbalut senyum).
Setelah berpamitan si
Ketua menuju rumah kader-kader yang lain untuk diundang rapat
pemenangan calon Gubernur dirumahnya.
Hari ini berlalu
seperti biasa, Tulang mencari botot, istrinya mengantar anaknya sekolah.
Hari ini botot yang didapat Tulang tidak sebanyak semalam. tetapi dia
bersukur karena untung masih ada.
Senjapun menyambut malam,
Tulang bersiap menghadiri rapat pemenangan Cagub dari partainya, Tulang
berjalan bersama tetangganya yang juga juga kader partai kambing.
Rapatpun dimulai, dihadiri oleh seluruh kader partai, baik yang
tua
maupun yang muda. Saran dan ide-idepun bermunculan, keputusan demi
keputusanpun diputuskan, dan akhirnya mereka yakin bahwa Cagub yang
diusung mereka menang. Karena Cagub berjanji akan menaikkan derajat
rakyat miskin, dan membenahi seluruh fasilitas umum. Kebetulan
lingkungan mereka mayoritas kelas ekonomi menengah kebawah. Setelah
hasil akhir rapat diputuskan, rapatpun dibubarkan. Tulang beserta
kader-kader tua partai yang lain berpulangan setelah disalam tempeli
oleh letua ranting. Dan kader-kader muda masih asik minum tuak yang
disediakan ketua ranting.
***
***
Hari pemilihan
gubernurpun tiba, Tulang beserta kader-kader yang lain sibuk untuk
menggiring massa termasuk keluarga dan kerabat-kerabat yang lain untuk
memilih Cagub yang diusung partai kambing. Hasilnya cagub dari partai
Kambing menang di daerah pemilihan tempat Tulang tinggal. Tak hanya itu,
Cagub dari partai kambing menang telak
diseluruh Provinsi, dan menjadi Gubernur untuk periode lima tahun
kedepan.
***
***
Setahun berlalu setelah Gubernur yang
baru dilantik, masyarakat termasuk Tulang belum merasakan
perubahan-perubahan yang dijanjikan gubernur sebelum terpilih. bahkan
kehidupan ekonomi, pendidikan dan kesehatan semakin membuat hidup tambah
runyam
Hari-hari Tulang berlalu seperti biasa, Tulang
mencari botot untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dengan membawa
sedikit hasil botot hari ini, Tulang berjalan pelan pulang kerumah.
Setibanya dirumah dia terkejut melihat istrinya menggendong
anaknya didepan rumah mereka yang sudah hangus terbakar. "dek, apa yang
terjadi dengan rumah kita?"(tanya Tulang bingung melihat rumahnya yang
sudah hangus terbakar). "Gak tau aku bang, tiba-tiba ada api dari atas
asbes rumah kita," kenapa gak segera
kau padamkan apinya dek?" "udah kucoba bang, tetapi kita kekurangan
air, sumur yang dibelakang sudah kering, air pet tetangga juga mati
bang, mobil pemadm kebakaran juga gak datang bang, padahal sudah
ditelepon dan diberi tahu alamat yang jelas" (sambilmenangis istrinya
menjelaskan kepada Tulang). "Tuhan, apa yang terjadi dengan rumah ku?
mengapa harus aku yang kau beri cobaan yang berat in???" (teriak Tulang
bertanya kepada yang Kuasa).
Tulang bergegas membuat laporan
ke Dinas Pemadam Kebakaran, sehubungan tidak datangnya mobil pemadam
saat rumahnya kebakaran. "pak kenapa mobil pemadam kebakaran tidak
datang waktu rumah ku kebakaran?" (tanya Tulang kepada petugas yang
sedang berjaga). "maaf Pak, Dinas pemadam kebakaran kekurangan armada
mobil pemadam. Kami cuma punya tiga mobil pemadam, itu juga sedang
menangani kebakaran ditempat lain." "kenapa bisa kekurangan mobil
pemadam, yang nggak-nggak aja alasan kalian, padahal di
APBD ada anggaran yang sangat besar untuk membeli mobil pemadam
kebakaran, kenapa masih kurang?" "itulah pak, uang untuk mobil pemadam
kebakaran dikorupsi sama Gubernur kita, semalam Gubernur dipanggil KPK
untuk dimintai keterangan." "Gubernur yang baru terpilih itu?" "iya pak"
Tanpa bisa berkata apa-apa, tulang berjalan pulang kerumahnya
yang sudah hangus terbakar. diperjalanan dia berteriak, "dasar Gubernur
sialan, capek aku mengusahakan pemenanganmu supaya jadi Gubernur kau,
kau korupsi pula uang untuk membeli mobil pemadam kebakaran, Gubernur
sialan, Gubernur kurang ajar...."
by : Admin
No comments:
Post a Comment