1/11/2017

Balok si Pecandu

Aku masih melamun membayangkan nasibnya. Begitu muda dia dipanggil menghadap sang pencipta. Tubuhnya terbaring kaku di tengah kerumunan orang-orang yang melayat menyaksikan anak manusia yang tak bernyawa.

“Kenapa dia?”
“Apa yang membunuhnya?”
“Apa dia ….?”
Pertanyaan-pertanyaan itu menanti jawaban, dan Balok hanya membisu tanpa sepatah kata. Dia tak mampu untuk menjawab pertanyan itu. Matanya tertutup rapat, tubuhnya pucat, darah tak mengalir dalam tubuhnya. Tak ada detak jantung dan nadi.
Hanya teman dan tetangga yang mengililingi jenajahnya saat disemayamkan hingga diantar ke pemakaman umum tempat melanjutkan mimpi indah, tanpa terjaga.

------------------------
Dirman Sidabalok, Aku memanggilnya balok. Hampir dua tahun aku tinggal dirumahnya. Sebelumnya aku ngontrak kamar disekitar rumahnya. Dan sejak itu aku mengenalnya. Kami sering main catur untuk mengisi waktu senggang, hingga suatu hari Balok berkata;

“Tar, dari pada kau bayar kontrakan tiap bulan, lebih bagus kau tinggal dirumah ku aja, sekalian ngirit biaya.” ucapnya kepada ku saat kami berdua duduk bernyanyi di teras rumahnya.

Aku menerima tawaran bagus itu, dan sejak itu, dari sepiring berdua hingga menikmati surga dunia, kami nikmati sama-sama. Kurang lebih setahun yang lalu, Balok bercerita kepada ku, katanya;

“Tar, aku pemake putaw, tapi itu dulu,” ucapnya diiringi hela nafas yang panjang.
“Putaw yang disuntikkan ke tangan itu?” Jawabku bingung penuh tanya.
“iya,tapi sekarang sudah nggak lagi.” iya melanjutkan dengan raut wajah seolah penuh penyesalan
“kenapa baru ini cerita? Yakin gak make lagi? Ada ini paket 75 ribu,,, “ aku sambil bergaya seperti bandar narkoba sungguhan.
“sok kali kau tar, tapi mirip gaya mu sama bandar ku dulu.” Kami tertawa.

Aku tidak begitu yakin dengan apa yang ia katakan, Balok belum berhenti make putaw, hanya saja dosisnya udah berkurang. Aku sering melihat insul dan bungkusan plastik disudut-sudut rumah. Tapi, aku bersandiwara seolah aku tidak tahu itu.

“Sejak kapan kau berhenti?”

“Tiga tahun lalu, ayah melihat aku merintih di kamar tidur waktu sakaw karena nggak ada uang untuk beli putaw. Ayah langsung membawa ku ke panti rehabilitasi narkoba. Disana aku di karantina, gak boleh keluar kemana-mana. Hanya berada dalam ruangan yang sempit dan membosankan. Mereka menganggap ku seperti orang gila… Gila rupanya aku Tar?”
“Gila, tapi tidak menggaggu.” Kami kembali tertawa.
Kasihan Balok. Tapi, ia masih bisa bercanda, padahal aku tahu, dia bercanda hanya untuk menutupi kesedihanya.
“Bagaimana dengan keluarga mu? Nggak pernah kau ceritakan sama ku.”
“Sejak masuk rehabilitasi, aku tak pernah bertemu kedua orang tua ku dan kedua adik ku. Mereka hanya mengirim surat, mengirim uang untuk bayar rumah sakit. Mereka tak pernah datang menemui ku.” Balok membakar rokoknya.

“Terus?”

“Bulan ke lima, aku keluar dari panti rehab. Padahal aku belum sembuh total. Aku mau pulang ke rumah. Aku rindu bertemu ayah, Ibu, dan adik. Tapi aku heran melihat rumah yang biasanya bersih, sekarang sudah seperti rumah yang tak berpenghuni. Ayah, ibu dan adik tak ada disana. Hanya sebuah surat yang dititipkan pada tetangga.” Balok diam sejenak.
“Surat apa? Surat warisan yah? Apa isi suratnya?”
“Banyak kali pertanyaan mu. macam wartawan kau.” Balok menarik rokoknya dalam-dalam.
“iyah, wartawan ecek-ecek.”
“Isi suratnya begini,”

“Buat anak ku tersayang Dirman Sidabalok. Maafkan ayah, ibu dan adik mu, kami pergi. Ayah mu dapat tugas di luar negeri hingga lima tahun ke depan. Ibu dan adik mu juga ikut. Jaga dirimu, belajarlah menikmati hidup, jangan pernah pake narkoba lagi!!! Hidup lah sebagai lelaki sejati. Dan jangan tinggalkan rumah ini.”
Hening, aku melihat raut wajah dengan tatap kosong. Sepertinya Balok teringat masa-masa indah bersama keluarganya dulu.
“Jadi, nggak pernah kau cari tahu dimana keluarga mu?” saut ku memecah suasana.
“Pernah aku coba Tar, tapi….” Balok diam sejenak.
“Tapi apa??”
“ Nggak tahu lah Tar, aku percaya mereka akan pulang lima tahun lagi.” Nada suaranya seolah menandakan keputusasaan.

-----------------------

Tiga bulan sebelum kematiannya, Aku dan Balok minum teh sambil main catur di teras rumah. Tanpa bilang-bilang, balok terjatuh dan pingsan di depan ku. Aku bingung dan panik, aku memapah balok ke kamarnya, ku rebahkan tubuhnya di atas tilam.
“Tar, badan ku dingin semua,”
“Sabar yah, biar ku telepon dokter.”
“Nggak usah, nggak ada gunanya itu, duit aja nya yang tau dokter-dokter itu.”
“Jadi?”
“Tenang aja tar, kau kawani aku disini, itu udah cukup memperpanjang umur ku.”
“Maksudnya?”
“Tar, sebelum aku mati, apa orang tua ku sudah pulang?”
“ Orang tua mu pasti pulang, mereka kan sudah berjanji. Tapi, apa maksud ucapan tadi?”
“Begini Tar, umur ku tak lama lagi. Betul yang di bilang dokter 3 tahun lalu. Umur ku tinggal 2 sampai 3 tahun lagi. Aku mengidap HIV, Virus belum ada obatnya. “
“Kenapa kau nggak pernah cerita?”
“Aku nggak mau orang lain tahu tentang ini. Tar, jangan bilang siapa pun tentang ini. Kalau aku mati nanti, dan orang tua ku belum kembali, kau lah yang menjaga rumah ini sampai orang tua ku datang. Dan tunjukkan dimana aku dimakamkan. “
“Ok bos. Tapi, sekarang kau istirahat, jangan banyak kali cerita mu, biar besok lebih segar badan mu.”
“Ok Tar.”
Sejak saat itu dan selama tiga bulan itu pula Balok tak pernah lagi bangkit dari tempat tidur, berat badannya turun drastis dari hari ke hari. Tubuhnya, kurus seperti tengkorak hidup. Virus itu menggerogoti tubuhnya dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. Hingga akhirnya Balok mengembuskan nafas terakhirnya dan pergi menemui sang pencipta.
***
Setahun berlalu, aku tidak lupa berkunjung ke makam Balok, aku juga masih menanti kapan keluarganya akan kembali, bukan melihat balok, melainkan melihat pemakamannya. Dan aku yakin keluarganya akan segera datang walaupun tak tahu kapan.

By : Admin

No comments: