Pagi itu langit masih gelap, jalanan kota belum lagi dipenuhi lalu
lalang kendaraan bermotor dan rutinitas penghuninya. Namun seperti
biasa, Murni (64) warga Simpang Kayu Besar, Desa Limo Manis, Tanjung
Morawa, siap untuk memulai tugas mulianya menyusuri pinggiran ruas Jalan
Gatoto Subroto Medan membersihkan sisa muntahan metropolitan yang
berserakan di sudut kota.
Minggu (22/12) genap 35 tahun lamanya Murni (64) berjuang membesarkan ke-empat anak dan dua cucunya dengan menggeluti profesi sebagai penyapu jalan tanpa menghiraukan tubuhnya yang semakin renta dimakan usia. Walau tak sekuat dahulu, jari-jarinya yang mulai keriput bahkan tak pernah mengeluh menggenggam batang sapu yang menari dari atas trotoar hingga ke badan jalan menyisiri tumpukan sampah.
Minggu (22/12) genap 35 tahun lamanya Murni (64) berjuang membesarkan ke-empat anak dan dua cucunya dengan menggeluti profesi sebagai penyapu jalan tanpa menghiraukan tubuhnya yang semakin renta dimakan usia. Walau tak sekuat dahulu, jari-jarinya yang mulai keriput bahkan tak pernah mengeluh menggenggam batang sapu yang menari dari atas trotoar hingga ke badan jalan menyisiri tumpukan sampah.
Baginya debu jalanan yang berterbangan menyelimuti sekujur tubuh tak menjadi penghalang langkah menjalankannya tugas demi sebuah perjuangan membesarkan anak dan cucunya. Meski usianya kini sudah terbilang renta namun perjuangannya yang masih bertahan dengan pekerjaan tersebut bukan tanpa alasan, dua cucunya yang ditinggal pergi kedua orangtuanya kini menjadi tanggungannya yang terakhir.
Saat ditemui di sela-sela tugasnya, Minggu (22/12) pagi, Murni
bercerita tentang perjuangannya sebagai seorang ibu yang membesarkan
empat anaknya yang saat ini sudah memiliki keluarga. Dua cucu Murni yang
ditinggal ibu dan ayahnya yang merupakan anak bungsu Murni saat ini
mulai beranjak remaja di sekolah menengah pertama.
"Iya kalau umur memang udah nggak muda lagi nak, tapi ibu masih tetap harus bekerja walapaun kayak gini karena masih punya tanggungan. Anak ibu ada empat udah pada kawin tapi ada dua cucu lagi dari anak ke-lima Yang udah meninggal, jadi sekarang ibu lah yang mengasuh karena masih sekolah," tutur Murni.
Perjuangan murni membesarkan ke-empat anaknya terasa semakin berat di punggungnya ketika di tinggal sang suami sejak delapan tahun silam. Penyakit darah tinggi dan diabetes yang menggerogoti tubuh sang suami akhirnya tak kuasa ditahan hingga akhirnya meninggal dunia pada tahun 2005 lalu.
"Apalagi sumai ibu udah meninggal delapan tahun kemarin karena penyakit dara tinggi sama diabetes. Dari sejak itu ibu sendiri yang membesarkan anak-anak ibu sampai sekarang udah berumah tangga semua. Nggak berapa lama anak ibu yang nomor lima meninggal, anaknya dua ibu yang ngasuh sampai sekrang udah SMP," ungkap Murni.
Entah sampai kapan tubuh tuanya tetap bertahan menyusuri pinggiran ruas jalan di tengah sulitnya mencari nafkah untuk menghidupi orang yang dicintainya. Dalam benaknya hanya ada sebuah harapan, kelak anak cucunya hidup bahagia tanpa kergauan. Perjuangan Murni wanita paruh baya penyapu jalan menghidupi anak dan cucunya menjadi satu gambaran se-sosok ibu yang bertahan di tengah kesulitan hidup demi keluarganya.
"Mudah-mudahan anak cucu ibu hidupnya bahagia nggak seperti ini, ibu nggak tau sampai kapan bisa bekerja seperti ini, tapi ini lah perjuangan hidup demi orang yang kita sayangi," tutupnya.
"Iya kalau umur memang udah nggak muda lagi nak, tapi ibu masih tetap harus bekerja walapaun kayak gini karena masih punya tanggungan. Anak ibu ada empat udah pada kawin tapi ada dua cucu lagi dari anak ke-lima Yang udah meninggal, jadi sekarang ibu lah yang mengasuh karena masih sekolah," tutur Murni.
Perjuangan murni membesarkan ke-empat anaknya terasa semakin berat di punggungnya ketika di tinggal sang suami sejak delapan tahun silam. Penyakit darah tinggi dan diabetes yang menggerogoti tubuh sang suami akhirnya tak kuasa ditahan hingga akhirnya meninggal dunia pada tahun 2005 lalu.
"Apalagi sumai ibu udah meninggal delapan tahun kemarin karena penyakit dara tinggi sama diabetes. Dari sejak itu ibu sendiri yang membesarkan anak-anak ibu sampai sekarang udah berumah tangga semua. Nggak berapa lama anak ibu yang nomor lima meninggal, anaknya dua ibu yang ngasuh sampai sekrang udah SMP," ungkap Murni.
Entah sampai kapan tubuh tuanya tetap bertahan menyusuri pinggiran ruas jalan di tengah sulitnya mencari nafkah untuk menghidupi orang yang dicintainya. Dalam benaknya hanya ada sebuah harapan, kelak anak cucunya hidup bahagia tanpa kergauan. Perjuangan Murni wanita paruh baya penyapu jalan menghidupi anak dan cucunya menjadi satu gambaran se-sosok ibu yang bertahan di tengah kesulitan hidup demi keluarganya.
"Mudah-mudahan anak cucu ibu hidupnya bahagia nggak seperti ini, ibu nggak tau sampai kapan bisa bekerja seperti ini, tapi ini lah perjuangan hidup demi orang yang kita sayangi," tutupnya.
No comments:
Post a Comment