"Bang, becak... " wanita berhijab hitam itu memanggil si Jagurdut.
"Ok kak,.." Jagurdut menyaut sambil memutar becak dayung tuanya.
Dengan nafas terengah, dan sebatang rokok kretek yang terselip diantara jari manis dan telunjuknya, Jagurdut mengayuh becak dayung warisan orang tuanya yang sudah lusuh dan sedikit berkarat menghampiri calon penumpang pertamanya pagi itu.
"Ayo kak, silahkan naik. Berangkat kemana kita kak?"
"Bang, antarkan aku ke rumah sakit yg di sudut simpang lima itu",
"Oke kak,"
Sambil mengayuh becaknya, Jagurdut bertanya,
"Siapa yg sakit kak?"
"Gk ada bang, cuma mau check up aja bang, perintah dari kantor bang, "
"Perhatian kali kantor kakak yah, sebelum sakit udah periksa dulu, apalagi kalau sakit, pasti langsung di obati lah yah kak,"
"Iya bang, tapi jangan lah pula sakit bang, di periksa dulu biar bisa di cegah, bang. "
"Iya ya kak, " Jagurdut bergumam sambil berfikir nikmatnya bubur kacang hijau yang di jual di pangkalan becak tadi.
"Bang, di depan ini aja bang, "
"Oke kak, " Jagurdut menepikan becaknya di celah mobil yang sedang terparkir.
Dalam perjalanan pulang, Jagurdut bergumam dalam hatinya. "Enak kali tempat kerja kakak itu, belum sakit aja udah di periksa. Kalau awak tukang becak ini siapa yg mau meriksa, jangankan di periksa sebelum sakit, waktu sakit pun susah awak memeriksakan kondisi awak ke dokter. BPJSpun lambat kali prosesnya, mau pakai uang, tak ada uang awak, " Jagurdut tersenyum sambil memarkirkan becaknya di samping tukang bubur di pangkalan. (03/10/2017, 07.38AM)
No comments:
Post a Comment